Tampilkan postingan dengan label jamaah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jamaah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 September 2011

Keluar dari Jama'ah sebagai penyelesaian, lebih baikkah?

1 komentar



إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له .وأشهد أن لا إله إلا الله وحده .لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله

أما بعد

Sebelum Muslimin -Semoga Alloh Paring Barokah- Membaca Artikel Dibawah Ini, Perlu diperhatikan Beberapa Poin Penting Penjelasan Tentang: 
"Syahnya Penyampaian Ilmu Menurut Salafussholih" dan
"MANQUL, MUSNAD, MUTTASHIL DAN RO’YI/PENDAPAT"

Keluar dari Jama'ah sebagai penyelesaian, lebih baikkah?


"Akh, dulu ana merasa semangat saat aktif dalam da'wah. Tapi belakangan rasanya semakin hambar. Ukhuwah makin kering. Bahkan ana melihat ternyata ikhwah banyak pula yang aneh-aneh." Begitu keluh kesah seorang mad'u kepada seorang murobbinya di suatu malam. Sang murobbi hanya terdiam, mencoba terus menggali semua kecamuk dalam diri mad'unya."lalu apa yang ingin antum lakukan setelah merasakan semua itu ? " sahut sang murobbi setelah sesaat termenung." Ana ingin berhenti saja, keluar dari tarbiyah ini. Ana kecewa dengan prilaku beberapa ikhwah yang justru tidak Islami. Juga dengan organisasi dakwah yang Ana geluti; kaku dan sering mematikan potensi anggota-anggotanya. Bila begini terus, Ana mendingan sendiri saja." Jawab mad'u itu.

Sang murobbi termenung kembali. Tidak tampak raut terkejut dari roman di wajahnya. Sorot matanya tetap terlihat tenang, seakan jawaban itu memang sudah diketahuinya sejak awal. " Akhi, bila suatu kali antum naik sebuah kapal mengarungi lautan luas. Kapal itu ternyata sudah sangat bobrok. Layarnya banyak berlubang, kayunya banyak yang keropos bahkan kabinnya bau kotoran manusia. Lalu, apa yang akan antum lakukan untuk tetap sampai pada tujuan?". Tanya sang murobbi dengan kiasan bermakna dalam.


Sang mad'u terdiam dan berfikir. Tak kuasa hatinya mendapat umpan balik sedemikian tajam melalui kiasan yang amat tepat. " Apakah antum memilih untuk terjun kelaut dan berenang sampai tujuan?". Sang murobi mencoba memberi opsi. "Bila antum terjun ke laut, sesaat antum akan merasa senang. Bebas dari bau kotoran manusia, merasa kesegaran air laut, atau bebas bermain dengan ikan lumba-lumba . tapi itu hanya sesaat.
Berapa kekuatan antum untuk berenang hingga tujuan?. Bagaimana bila ikan hiu datang. Darimana antum mendapat makan dan minum? Bila malam datang, bagaimanan antum mengatasi hawa dingin?" serentetan pertanyaan dihamparkan dihadapan sang mad'u. Tak ayal, sang mad'u menangis tersedu. Tak kuasa rasa hatinya menahan kegundahan sedemikian. Kekecewaannya kadung memuncak, namun sang murobbi yang dihormati justru tidak memberi jalan keluar yang sesuai dengan keinginannya.

"Akhi, apakah antum masih merasa bahwa jalan dakwah adalah jalan yang paling utama menuju ridho Allah? " Bagaimana bila ternyata mobil yang antum kendarai dalam menempuh jalan itu ternyata mogok? Antum akan berjalan kaki meninggalkan mobil itu tergeletak dijalan, atau mencoba memperbaikinya? . Tanya sang murobbi lagi.
Sang mad'u tetap terdiam dalam sesenggukan tangis perlahannya. Tiba-tiba ia mengangkat tangannya:"Cukup akhi, cukup. Ana sadar.. maafkan Ana…. ana akan tetap Istiqomah. Ana berdakwah bukan untuk mendapatkan medali kehormatan. Atau agar setiap kata-kata ana diperhatikan… " .

Biarlah yang lain dengan urusan pribadinya masing-masing. Biarlah ana tetap berjalan dalam dakwah. Dan hanya Allah saja yang akan membahagiakan ana kelak dengan janji-janji- Nya. Biarlah segala kepedihan yang ana rasakan menjadi pelebur dosa-dosa ana". Sang mad'u berazzam dihadapan sang murobbi yang semakin dihormatinya.
Sang murobbi tersenyum "Akhi, jama'ah ini adalah jamaah manusia. Mereka adalah kumpulan insan yang punya banyak kelemahan. Tapi dibalik kelemahan itu, masih amat banyak kebaikan yang mereka miliki . Mereka adalah pribadi-pribadi yang menyambut seruan Allah untuk berdakwah. Dengan begitu, mereka sedang berproses menjadi manusia terbaik pilihan Allah." "Bila ada satu dua kelemahan dan kesalahan mereka, janganlah hal itu mendominasi perasaan antum. Sebagaimana Allah ta'ala menghapus dosa manusia dengan amal baik mereka, hapuslah kesalahan mereka dimata antum dengan kebaikan-kebaikan mereka terhadap dakwah selama ini. Karena di mata Allah, belum tentu antum lebih baik dari mereka."

"Futur, mundur, kecewa atau bahkan berpaling menjadi lawan bukanlah jalan yang masuk akal. Apabila setiap ketidak-sepakatan selalu disikapi dengan jalan itu , maka kapankah dakwah ini dapat berjalan dengan baik?" sambungnya panjang lebar. "Kita bukan sekedar pengamat yang hanya bisa berkomentar. Atau hanya pandai menuding-nuding sebuah kesalahan. Kalau hanya itu, orang kafirpun bisa melakukannya. Tapi kita adalah da'i. kita adalah khalifah. Kitalah yang diserahi amanat oleh Allah untuk membenahi masalah-masalah di muka bumi. Bukan hanya mengeksposnya, yang bisa jadi justru semakin memperuncing masalah.


"Jangan sampai, kita seperti menyiram bensin ke sebuah bara api. Bara yang tadinya kecil.tak bernilai, bisa menjelma menjadi nyala api yang yang membakar apa saja. Termasuk kita sendiri!" "Bekerjalah dengan ikhlas. Berilah taushiah dalam kebenaran, kesabaran dan kasih sayang kepada semua ikhwah yang terlibat dalam organisasi itu.
Karena peringatan selalu berguna bagi orang beriman. Bila ada isyu atau gosip tutuplah telinga antum dan bertaubatlah. Singkirkan segala ghil antum terhadap saudara antum sendiri. Dengan itulah, Bilal yang mantan budak hina menemui kemuliaannya. "

Suasana dialog itu mulai mencair. Semakin lama, pembicaraaan melebar dengan akrabnya. Tak terasa, kokok ayam jantan memecah suasana. Sang mad'u bergegas mengambil wudhu untuk berqiyamu lail. Malam itu. Sang mad'u sibuk membangunkan mad'u yang lain dari asyik tidurnya. Malam itu sang mad'u menyadari kesalahannya. Ia bertekad untuk tetap berputar bersama jama'ah dalam mengarungi jalan dakwah. Pencerahan diperolehnya. Demikian yang kami harapkan dari antum sekalian…

Kamis, 22 September 2011

6 Tabiat Luhur Membangun Integritas Bangsa

0 komentar



إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له .وأشهد أن لا إله إلا الله وحده .لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله

أما بعد

Sebelum Muslimin -Semoga Alloh Paring Barokah- Membaca Artikel Dibawah Ini, Perlu diperhatikan Beberapa Poin Penting Penjelasan Tentang: 
"Syahnya Penyampaian Ilmu Menurut Salafussholih" dan
"MANQUL, MUSNAD, MUTTASHIL DAN RO’YI/PENDAPAT"

 

 

6 Tabiat Luhur Membangun Integritas Bangsa



Sekadar nostalgia, Indonesia pernah menjadi salah satu titik pusat peradaban dunia. Lalu semuanya menjadi senyap. Riuh nama Jawadwipa atau Swarnadwipa yang membuat orang-orang Eropa, pemburu merica dan lada, berdatangan ke nuasantara tak lagi terdengar.

Maka monumen berupa candi Borobudur, Prambanan, dan berbagai artefak peninggalan sejarah seperti mengingatkan tentang pernah adanya sebuah integritas yang pernah hadir di Indonesia. Lalu, bagaimana mengembalikan integritas bangsa di tengah-tengah konsumerisme, korupsi, dan ancaman perpecahan lantaran perbedaan agama atau ras. LDII melihat pentingnya bangsa Indonesia melaksanakan 6 tabiat luhur (rukun, kompak, kerjasama yang baik, jujur, amanah, dan kerja keras juga berhemat (muzhid mujhid)), sebagai upaya keluar dari krisis integritas bangsa. Dimulai dengan meningkatkan kerukunan di antara sesama bangsa Indonesia. “Bangsa ini harus sanggup membebaskan diri dari prasangka buruk, rasa dengki, dan iri antara sesama anggota masyarakat. Sifat yang khas dari orang Indonesia adalah tak suka bila koleganya berhasil,” ujar Prasetyo Soenaryo, Ketua DPP LDII. Kerukunan, imbuh Prasetyo, bersifat dinamis.

Kerukunan sejatinya adalah modal dasar manusia sebagai makhluk sosial yang selalu ingin berkelompok. Sebab, kerukunan merupakan media untuk mengumpulkan energi positif. Energi positif inilah yang sangat diperlakukan untuk membangun kehidupan sosial kea rah yang lebih baik, dalam bentuk pembangunan. Bayangkan saja bila kerukunan tak dibentuk, energi positif akan terus berbenturan dengan energi negatif, yang berakibat mundurnya proses pembangunan bangsa.
Selain kerukunan, hal lain yang tak boleh diabaikan adalah asalah kekompakan. Sebab, rukun, tak selalu kompak. “Manusia bisa saja rukun, meski berbeda pendapat, namun kekompakan membutuhkan kesamaan pendapat, visi, sampai bagaimana memulai dan mengakhiri pekerjaan,” tutur Chriswanto Santoso, Ketua DPP LDII sekaligus Ketua DPD LDII Jawa Timur.

Kompak
Wujud nyata kompak, sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW yang diriwayatkan dalam hadits Bukhori: “Orang iman terhadap orang iman yang lain sebagaimana bangunan yang bagian-bagiannya saling memperkuat”. Dengan demikian kekompakan menciptakan sebuah jati diri, kekuatan, dan solidaritas karena dengan kompak kelemahan satu individu bisa ditutupi dengan kelebihan yang lain. Hal ini sangat berguna untuk menyelesaikan suatu program atau menghadapi ancaman dari luar.

Lalu berikutnya adalah kerjasama yang baik.
Kerjasama adalah sikap yang harus dimiliki kelompok untuk mencapai cita-cita bersama. Dalam kerjasama, setiap individu harus menjauhkan diri dari sikap saling jegal atau merugikan satu sama lain. Kerjasama diperlukan untuk mengorganisasi potensi yang dimiliki dalam suatu kelompok. Dalam team building, pengertian satu sama lain untuk meraih cita-cita bersama menjadi sangat penting, sehingga pada satu titik diperlukan pengorbanan dari salah satu anggota kelompok.

Pengembangan Potensi Individu
Selanjutnya, ada tiga hal yang mesti dimiliki oleh individu untuk membangun integritas bangsa, yakni sifat jujur, amanah, dan bekerja keras. Kejujuran boleh dikata adalah pangkal atau modal dasar membangun integritas. Seorang individu harus mampu jujur terhadap diri sendiri(internal honesty) maupun terhadap orang lain (external honesty).

Kejujuran terhadap diri sendiri diperlukan untuk merumuskan target yang bisa diraih oleh seorang individu. Selain itu, kejujuran terhadap diri juga sangat penting untuk menselaraskan antara ucapan dan perbuatan. Sebab, ketidaksesuaian antara ucapan dan perbuatan mengakibatkan tergerusnya integritas seseorang.

Jamak yang terjadi di Indonesia adalah, pada saat Pemilu para calon pemimpin berkampanye dengan janji-janji, yang sebenarnya mereka sendiri tak bakal mampu memenuhi janjinya itu. Walhasil, usai memenangi Pemilu, mereka tak akan pernah menepati janjinya, lantaran orientasi berpolitik hanya soal kekuasaan atau posisi belaka. Inilah yang membuat Indonesua berjalan di tempat.

Jujur terhadap orang lain diperlukan untuk menjaga integritas. Juga merupakan syarat terwujudnya keutuhan dan kekompakan kelompok. Tanpa kejujuran terhadap orang lain, mustahil kerukunan, kekompakan, dan kerjasama yang baik bakal terwujud. Semakin tinggi tingkat kejujuran dalam suatu kelompok atau bangsa, maka semakin ringan beban sosial yang ditanggung oleh bangsa, sebaliknya semakin rendahnya tingkat kejujuran menambah beban sosial suatu bangsa.

Lantas, sikap amanah diperlukan agar setiap individu dapat dipercaya dan mampu menjaga kepercayaan yang diberikan kepadanya. Sikap amanah, diperlukan untuk membangun kemampuan bekerjasama dengan pihak lain, untuk mencapai cita-cita bersama. Kemampuan mengemban amanah, sangat berkait dengan kemampuan membentuk kinerja kelompok, bahkan membentuk kinerja suatu bangsa. Kemampuan mengemban amanah akan menghasilkan kehidupan saling percaya, yang selanjutnya menghasilkan energi positif.

Sebaliknya, ketidakmampuan mengemban amanah akan menghasilkan energi negatif, yang membuat suatu kelompok atau bangsa selalu ingin berfikir negatif antara satu dengan yang lainnya, yang hasilnya justru membuat menurun kinerja individu atau kelompok. Tingginya tingkat korupsi di Indonesia, salah satu disebabkan ketidakmampuan birokrat untuk jujur dan amanah terhadap tugas yang diembankan pada mereka. Lalu korupsi inilah yang membuat ekonomi berbiaya tinggi, yang hasilnya produk Indonesia kalah bersaiang dari sisi kualitas dan harga, juga investor jeri untuk melakukan investasi di Indonesia, lantaran banyak korupsi dalam bentuk pungutan liar, di luar pungutan yang legal.

muzhid mujhid
Sikap terakhir yang diperlukan untuk membangun integritas bangsa adalah muzhid mujhid.
Muzhid (bekerja keras), adalah usaha keras agar dapat bersaing dalam iklim kompetisi global. Dalam meraih tujuan, seseorang harus melakukan kerja keras untuk hasil yang maksimal sekaligus memenangi persaingan. Bekerja keras dapat menghasilkan sesuatu untuk pencapaian kebutuhan hidup atau memberi solusi terhadap suatu permasalahan.

Budaya kerja keras inilah yang tampak dari orang Jepang dengan semangat bushido, yakni kerja keras dan tekun hingga tercapainya suatu target. Semangat inilah yang juga menyelamatkan bangsa Jepang dari keruntuhan fisik dan moril pasca Perang Dunia II. Demikian pula dengan masyarakat maju di negara Barat, mereka bekerja keras sekaligus merencanakan semuanya dengan matang. Dengan demikian, Barat mencapai peradaban tertinggi dalam hal teknologi sejak revolusi industri di abad 19.

Selanjutnya adalah berhemat. Hemat menjadi bagian penting dari pembangunan integritas, lantaran inilah sikap terampil dalam mengelola pengeluaran. “Ketika budaya konsumerisme menyergap dunia, orang tak lagi memperhatikan fungsi dalam membeli produk, tapi lebih mengutamakan gengsi,” kata Yudi Latief, cendekiawan muslim. Pendekatan ini membuat orang semakin boros lantaran slogan: Anda adalah apa yang Anda pakai. Walhasil status seseorang bukan lagi ditentukan oleh profesi atau kelebihan dalam suatu ketrampilan, tapi diukur dengan apa yang dimiliki.

Repotnya, konsumerisme ini mendorong orang berbuat apa saja untuk memiliki materi, alias brand terkemuka. Mereka tak lagi hanya bekerja keras, tapi juga karena desakan-desakan keinginan dari keluarga, seorang ayah misalnya korupsi karena ingin membelikan mobil istrinya. Taka sing bila seorang staf kejaksaan korupsi lantaran ingin memiliki handphone cerdas macam Blackberry. Nah inilah yang membuat integritas terganggu lantaran persoalan konsumerisme.

Dengan berhemat, seseorang mampu menyimpan devisa untuk pengembangan usaha sekaligus menjaga segala kemungkinan keperluan mendadak. Kemampuan berhemat inilah yang membuat bangsa Cina memiliki surplus besar devisa negara dan cadangan energi. Misalnya manajemen batubara. Cina adalah pengimpor terbesar batu bara dunia, sementara cadangan batu bara yang mereka miliki sebagai persediaaan bila cadangan dunia menipis.

Dengan 6 tabiat luhur ini, setidaknya menjadi modal kuat dalam membangun integritas bangsa. Sehingga Indonesia bisa duduk sama rendah dan berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa di dunia.

Selasa, 20 September 2011

WAJIBNYA MENETAPI ISLAM SECARA BERJAMAAH DAN BERIMAM

0 komentar




السلام عليكم و رحمة الله و بركاته


إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له .وأشهد أن لا إله إلا الله وحده .لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله

أما بعد


WAJIBNYA MENETAPI ISLAM SECARA BERJAMAAH DAN BERIMAM



Wahai kaum muslimin, dari semenjak Nabi Nuh hingga jaman akhir ALLAH menggariskan bahwa dalam menjalankan ibadah menetapi syariat agama haruslah/wajib berjamaah dengan dipimpin,dibimbing dan diatur oleh seorang pemimpin(tidak bergolong-golong),

firman ALLAH:

شَرَعَ لَكُمْ مِّن الدِّيْنِ مَا وصّيٰ بِه ى نُوحاً والذيۤ أوحيناۤ إليك وما وصّينابِهۤ إبرٰهيم و موسي و عيسيٰۤ أن أقيموا الدين ولا تتفرّقوا فيه كبر علي المشركين ما تدعوهم إليه...الاية الشوري:١٣

Artinya:

"Alloh telah memberikan syariat agama sama seperti yang telah diwasiatkan pada nabi Nuh sama seperti yang dawahyukan padamu (Muhamad) dan sama seperti yang diwasiatkan pada nabi Ibrahim,Musa, dan Isa yaitu supaya kalian menetapi agama dan jangan berpecahbelah (berfirqah2) didalam menjalankan agama, ajakan yang kamu serukan ini berat atas orang2 musyrik untuk menjalankannya...Al Ayat" (Q.S. Asy Syuura 13)

واعْتصموا بحبل الله جميعاً و لا تفرّقوا....الاية ال عمران:١٠٣

Artinya:

Berpegang teguhlah kalian pada agama ALLAH secara berjama’ah dan janganlah berpecahbelah (berfirqah2)….Al Ayat (Q.S. Ali Imran 103)



Didalam tafsir termashur diantaranya :tafsir jalalain dan ibnu Katsir kalimat jami’an dimaksudkan Alloh memerintahkan untuk berjama’ah. Ana akan kemukakan beberapa hadist yang menjelaskan tentang apa yang dimaksud dengan berjama’ah dan jangan berfirqah2:



١- كَانَتْ بَنُو اِسًَََرَاءِيلَ َتسُوْسُهُمُ اْلاَنِْبيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيُّ خَلَفَهُ نَبِيّ وَاِنَّهُ لاَ نَبِيّ بَعْدي وَستَكُوْنُ خُلَفَاءُ تَكْثُرُ قَالُوْا فَمَا تَأمُرُنَا قَال فُوْا بَيْعَةَ اْلاوٌَل فاْلاوَّل واَعْطُوْهُمْ حَقَّهُمْ فَاِنَّ الله سَاءِلُهُمْ عَمَّا اْستَرْعَاهُمْ

رواه مسلم كتاب الامرة))



Artinya:

Yang mengatur/memimpin/membimbing kaum Bani Israil adalah Para Nabi, tatkala Nabi yang satu wafat maka menggantikan Nabi yang lain, dan bahwasannya tidak ada Nabi lagi sesudahku dan akan ada Khalifah2(Imam2) maka akan banyak mereka,Para Sahabat berkata: maka apa yang Rasulullah perintahkan pada kami(kalau sudah menjumpai zaman sesudah rasulullah dan banyaknya imam) tetapilah bai’at kalian yang pertama (pada imam yang paling awal) maka yang pertama dan penuhilah hak mereka imam (untuk diTaati) seungguhnya ALLAH akan meminta pertanggung jawaban pada mereka imam tentang pengaturan yang mereka lakukan pada ru’yahnya(jam’ahnya).(HR Muslim Kitabul Imarah)



٢. .....قال تَلْزَمُ جَمَاعَةَ اْلمُسْلِمِينَ وَ اِمَامَهُم قُلْتُ فَاِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلا اِمَامٌ قال فَاعْتَزِلْ تلك الفِرَقَ كُلَّها ولو اَنْ تَعَضَّ بِاَصْلِ شَجَرة حتَّى يُدْرِكَكَ اْلمَوْت وَ اَنْتَ علي ذلك

رواه بخاري كتاب المناقب))



Artinya:

…..Nabi Bersabda: Kamu supaya menetapi jama’ahnya orang islam dan imam mereka, berkata aku hudaifah : jika pada waktu itu tidak ada jama’ah dan tidak ada imam, Nabi Bersabda: Maka memisahkan dirilah engkau dari semua golongan2 itu (golongan yg tidak ada imam dan tdk berjam’ah) kamu harus memisahkan diri meskipun sampai2 engkau makan akarnya pohon sampai mati menjemputmu .(HR Bukhari Kitabul manakib)



لَيْسَ اَحَدٌ يُفَارِقُ اْلجَمَاعَة شِبْرًا فَيَمُوْت اِلََّا مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً (رواه البخاري)



Artinya:

Tidak ada seorangpun yang memisahi jama’ah sejengkal(tidak berjamaah) maka mati dia berarti matinya dalam keadaan jahiliyah (HR Bukhari)



مَنْ كَرِهَ مِنْ اَمِيْرِهِ شَيأً فَلْيَصْبِرْ فَاِنَّهُ مَنْ خَرَجَ مِنَ السُّلْطَان شِبْراً مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيّةً

(رواه بخاري كتاب الفتن)

Artinya:

Barang Siapa yang membenci sesuatu dari imamnya maka supaya sabar karena siapapun yang keluar dari keimaman meski sejengkal maka mati dia dalam keadaan jahiliyah (HR Bukhary Kitabul fitan)

Wahai saudaraku kaum muslimin, dari dalil2 diatas menunjukan bahwa wajibnya antum mempunyai imam dan menetapi jama’ah ,menetapi jama’ah berarti mempunyai imam dan Taat pada aturan2 imam yang tidak maksiat, sehingga antum dapat melaksanakan perintah Allah di QS Annisa ayat 59:



يأۤۤيّها الذين آمنوا أطيعوا الله وأطيعوا الرسول و أُولي الامر منكم...الاية

Artinya:

Hai orang2 beriman taatlah kalian pada ALLAH, Rasul dan yang mempunyai perkara kamu sekalian (imam) (Al Ayat Q.S. Annisa 59)



Dan dapat melaksanakan sabda rasulullah s.a.w:

عَلَي اْلمَرْءِ اْلمُسْلِمِ السَّمْعُ والْطَّاعَةُ فِيمَا اَحبَّ و كَرِهَ اِلَّا اَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَةٍ فَاِنْ اُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فلاَ سَمْعَ و لاَ طَاعَةَ

(رواه مسلم كتاب الامارة)



Artinya:

Wajib atas seorang muslim untuk mendengarkan dan Taat (pada imamnya) didalam semua perkara baik yang menyenangkan maupun membencikan kecuali diperintah utk berbuat maksiyat, maka jika diperintah (oleh imamnya) dengan maksiat maka janganlah mendengarkan dan Taat . (HR Muslim Kitabul Imarah)



Kesimpulan :

Wajibnya kita menetapi jama’ah dan berimam sampai2 seandainya disuatu tempat tidak ada imam dan jamaah maka orang itu harus uzlah memisahkan diri dari semua golongan disitu karena semua yang ada disitu berarti firqah2 bukan jama’ah (hadis Bukhari no 2 diatas),praktek harus memisahkan diri meskipun harus makan akar-akar pohon(terpencil sendirian dipedalaman hutan).



BEBERAPA KONTROVERSI TENTANG IMAMAH / KEIMAMAN



• MENENTUKAN KRITERIA IMAM MANAKAH YANG SAH PADA SAAT INI

Berdasarkan dalil berikut ,apabila disuatu wilayah ada dua atau lebih keimaman maka yang sah dari semuanya adalah yang pertama:



عن عَرفَجَةَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللّه صلي الله عليه و سلم يَقُولُ: مَنْ أتاَكُمْ وَاَمْرُكُمْ جَمِيْعٌ علي رَجُلٍ وَاحِدٍ يُرِيْدُ اَنْ يَشُقَّ عَصَاكُمْ أوْ

يُفَرِّقَ جَمَاعَتَكُمْ فَقْتُلُوهُ

(رواه مسلم كتاب الامارة)



Artinya:

Dari Arfajah berkata mendengar aku pada Rasululloh s.a.w bersabda: Barang siapa yang datang pada kalian sedangkan perkara kalian telah berkumpul atas seorang laki2(perkara agama sudah diatur oleh seorang imam),orang yang baru datang tersebut menghendaki untuk memecah perkumpulan kalian atau dengan kata lain menghendaki memcah jamah kalian maka bunuhlah orang tersebut.(HR Muslim Kitabul Imarah)



عن اَبِي سعيد الْخُدرِيُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللّه صلي الله عليه و سلم: اِذَا بُوْيِِعَ لِخَلِفَتَيْنِ فَاقْتُلُوْا اْلاۤخَرَ مِنْهُمَا (رواه مسلم كتاب الامارة)

Dari Abi Said Alkhudzriy berkata: Bersabda Rasulloh s.a.w: Ketika dibai’at(diangkat imam) pada dua orang kholifah maka bunuhlah yang paling akhir dari keduanya (HR Muslim Kitaabul Imarah)



• BAGAIMANAKAH DENGAN DALIL YANG MENGATAKAN KEIMAMAN ITU HARUS DARI QURAISY

Dalil ini memang ada tapi dalil imam itu dari orang quresy tidaklah menyebabkan orang itu gugur kewajibanya mempunyai imam/boleh tidak punya imam, seandainya tidak ada imam dari quresy tetap antum harus mempunyai imam analogi dengan hal ini orang sholat itu harus membaca fatihah seandainya ada orang yang belum mampu baca fatihah karena tidak hafal dan buta huruf dia tetap harus sholat tidak berarti kewajiban sholatnya gugur karena tidak bisa baca fatihah. Terlebih dalam hadistpun disebutkan dimungkinkannya seseorang itu mempunyai imam yang bukan Quresy:



عن اَبِي ذرٍّ قَالَ: اِنَّ خَلِيْلِي اَوْصَانِيْ اَنْ اَسْمَعَ وَ اُطِيْعَ وَاِنْ كَانَ عَبْدًا مُجَدَّعَ اْلاَطْرَافَ (رواه مسلم كتاب الامارة)



Artinya:

Dari abi dzar berkata: sesungguhnya kekasihku(Nabi Muhammad S.a.w) telah berwasiat padaku supaya saya mendengarkan dan mentaati pada imam meskipun yang menjadi imam itu budak sahaya yang cacat fisiknya. (HR Muslim Kitaabul Imarah hal 14)



.... يَقُولُ: اِنْ اُمِّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ حَسِبْتُهَا قَالَتْ اَسْوَدُ يَقُوْدُكُمْ بِكِتَابِ الّلهِ فَاسْمَعُوْا لهُ وَاَطِيْعُوْا (رواه مسلم كتاب الامارة)



Artinya:

…..Nabi Bersabda: meskipun dijadikan imam atas kalian seorang hamba -(rowi mengomentari: Hamba yang hitam) –Tetapi dia menggiring pada kalian dengan kitabulloh maka dengarkanlah dia dan taatilah (HR Muslim Kitabul Imarah hal 15)



• BAGAIMANAKAH JIKA SEORANG IMAM BUKAN QURAISY TELAH DIBAI’AT LALU ADA ORANG QURAISY YANG FAHAM QUR’AN DAN SUNAH MUNCUL SETELAH IMAM ITU DIBAI’AT

Wahai kaum Muslimin, berdasarkan hadist2 shahih yang ada imam itu setelah dibai’at maka kedudukannya jadi imam terus sampai dia itu wafat atau sampai dia itu keluar dari islam (berarti batallah keimamannya),bahkan didalam hadist muslim tatkala nabi Isa nanti turun menjelang kiamat, Nabi Isapun tidak mau dan merasa tidak berhak menjadi imam sholat karena pada saat itu sudah ada keimaman di kalangan orang2 islam:



عن جَابِرَبْنَ ٍعَبْدِ الّلهِ يَقُولُ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللّه صلي الله عليه و سلم يَقُولُ: لَاتَزالُ طَاءِفَةٌ مِنْ اُمَّتِي يُقَاتِلُونَ عَليَ اْلحَقِّ ظَاهِرِيْنَ اِلَي يَوْمِ اْلقِياَمَةِ قَالَ: فَيَنْزِلُ عِيْسَي بْنُ مَرْيَمَ صلي الله عليه و سلم فَيَقُولُ اَمِيْرُهُمْ تَعَالَ صَلِّ لَنَا فَيَقُولُ لَا اِنَّ بَعْضَكُمْ عَلَي بَعْضٍ اُمَرَاءُ تَكْرِمَةَ الّلهِ هٰذِهِ اْلاُمَّةَ

(رواه مسلم كتاب الايْمَان :٩٥)



Artinya:

…Nabi s.a.w Bersabda:Tidak henti-hentinya segolongan dari umatku berperang (berjuang) diatas kebenaran dengan keadaan menang hingga hari Kiamat. Bersabda Nabi: maka turun Isa Ibnu Maryam maka imamnya mereka orang islam pada waktu itu berkata: kemarilah engkau Nabi Isa maka imamilah kami dalam sholat, maka Nabi Isa menjawab: Tidak/Jangan saya karena sesungguhnya sebagian kalian satu sama lain telah ada Imam2 yang mengatur(Umaro) dimana para umaro itu merupakan keharoman/kehormatannya ALLAH pada Umat ini.



• Bagaimanakah dengan orang yang mengatakan keimaman itu harus mempunyai kekuasaan/negara

Wahai saudaraku kaum Muslimin, imam itu tidak harus mempunyai kekuasaan apalagi negara,tapi imam itu diangkat berdasarkan bai’at /pengangkatan seseorang pada orang yang dijadikan Imam. Banyak dalil Qur’an dan hadist2 shahih mengenai ini mungkin di lain waktu akan ana sampaikan.

Sebagai gambaran banyak nabi2 dulu diangkat jadi nabi dan memimpin umat tidak mempunyai kekuasaan seperti:Nabi Ibrahim di usir Raja Namrud,Nabi Musa rajanya waktu itu fir’aun hingga Musa dikejar2, juga nabi Kita Muhammda s.a.w terusir dari Mekah karena yang mempunyai kekuasaan pada waktu itu Quresy, malah banyak umat zaman dahulu kufur pada nabi2 dengan alasan nabinya tidak mempunyai kekuasaan(tidak berkuasa).



• Bagaimanakah dengan dalil yang mengatakan orang itu tetap jamaah meskipun sendiri selama dia menetapi kebenaran(quran dan sunah)

Dalil tersebut Betul sekali meskipun seseorang itu sendirian disuatu tempat selama dia menetapi islam yang berbentuk jamaah(telah berbai’at pada imam/mempunyai imam) dia tetap seorang yang menetapi jama’ah, hal ini pernah terjadi di zaman Rasululloh s.aw. pada waktu itu ada seorang Raja di negeri Najasi (raja najasi) dia telah menyatakan dirinya islam pada Nabi meskipun didaerahnya dia sendirian ketika dia wafat nabi mensholatinya karena dia dihukumi Islam meskipun sendirian di negerinya.

Adanya ana mengemukakan dalil2 hanya dari Quran dan Hadist Bukhari Muslim saja agar antum yang tidak sependapat tidak terpancing membahas keshahihan hadist tetapi hanya focus pada matan / isi dari dalil2 yang ana kemukakan.

Disamping itu ana kuatir apabila ana mengemukakan hadist dari Tirmidzi, Nasai, Abu Daud dll antum yang tidak sependapat malah mendhoifkan hadist2 yang sudah dianggap shahih oleh Imam2 hadist tersebut.



Beberapa Tip Yang Mudah-mudahan Bermanfaat

1. Antum jangan sampai tertipu oleh angan2/prasangka sendiri dengan merasa sudah berjama’ah(ahlu sunah wal jam’ah) atau sudah menetapi kebenaran padahal antum tidak pernah mengangkat seseorang (dg Berbai’at) menjadi Imam.

2. Antum supaya mencari imam atau mengangkat seseorang dg dibai’at untuk menjadi imam antum, apabila di sekitar antum sudah ada keimaman yang menjalankan Quran dan Sunah supaya antum ikut berbai’at pada keimaman itu

3. Apabila antum sendirian dan merasa disekitar antum belum ada keimaman yang sesuai Quran dan Sunah supaya antum uzlah /memisahkan diri dari golongan2 yang ada karena berarti semua golongan disekitar antum itu firqoh2(Hadist buhori no 2 di atas),meskipun antum dalam memisahkan diri tersebut harus makan akar2an saja.

4. Dalam agama perbandingan golongan yang benar(firqatun najiyah) dengan yang sesat 1:banyak ,dengan kata lain yang sesat itu lebih banyak, kecuali diterangkan dalam Alhadist ketika zaman Nabi Isa ibnu Maryam Turun ke Dunia maka manusia umumnya akan beriman

5. Hati-hati antum dalam menetapkan suatu kebenaran dalam agama,ingat sabda Rasulullah s.a.w yang diriwayatkan dalam shahih Muslim berikut:



سَمِعْتُ رَسُولَ اللّه صلي الله عليه و سلم يَقُولُ: سَيَخْرُجُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ قَومٌ اَحْدَثُ اْلاَسْنَان سُفَهَاءُ اْلاَحْلَام يَقُولُونَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ اْلبَرِيَّة يَقْرَأُُوْنَ اْلقُرْآنَ لَا يُجاوِزُ حَناَجِرَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنَ اْلدِّيْن كَمَا يَمْرُقُ اْلسَهْمُ مِنَ اْلرَّمِيَّةِ .....الحديث

(رواه مسلم كتاب الزكاة :١١٤)



Artinya:

Aku (Ali r.a) mendengar Rasulullah s.a.w Bersabda: Akan keluar pada akhir zaman suatu kaum yang muda2 dan bodoh akalnya(tidak faham agama) berkata mereka dengan ucapan sebaik2nya manusia (logis,enak didengar dll) mereka membaca Alquran tetapi Alquran tidak masuk kedalam hatinya (tidak faham dan tidak mengamalkan isi Alquran) keluar mereka dari agama islam seperti menembusnya anak panah dari sasaran (tidak berbekas sama sekali …Alhadist) (HR Muslim Kitabu Zakat: Hal 114)



Termasuk dalam katagori tidak faham Alquran:

• Iman sebagian Alquran dan Kufur Pada sebagian lain(pilih-pilih ayat yang cocok dengan dirinya)

• Merubah2 maksud ayat dari maksud aslinya ayat Alquran



KESIMPULAN:

• MENETAPI QUR’AN dan SUNAH(KEBENARAN ) ITU BERARTI MENETAPI JAMAAH JUGA BERARTI BERIMAM JUGA DAN BERARTI BERBAI’AT JUGA

• KALAU ANTUM MEMPUNYAI IMAM ANTUM BISA MENJALANKAN PERINTAH ALLAAH DI Q.S ANNISA 59 UNTUK TAAT PADA ULIL AMRI

• DIDALAM AGAMA HARUS ADA KETAATAN KEPADA SESAMA MANUSIA,KALAU DULU LANGSUNG PADA NABI2 KALAU SEKARANG PADA IMAM2 YANG ANTUM BAI’AT SELAMA PERINTAH IMAM ITU TIDAK MAKSIAT

• BANYAK CERITA2 DI ALQUR’AN YANG MENJELASKAN MANUSIA BANYAK YANG KUFUR TERHADAP PERINTAH ALLAH UNTUK TAAT PADA SESAMA MANUSIA (TAAT PADA NABI2) GARA2 MANUSIA ITU MERASA ORANG YANG HARUS DIA TAATI ITU TIDAK LAYAK UNTUK DITAATI ATAU DIA MERASA LEBIH BAIK DARI ORANG YANG HARUS DIA TAATI TERSEBUT.CONTOH:

a. SEBAGIAN ORANG YAHUDI/NASRANI TIDAK MAU TAAT PADA RASULULLAH KARENA NABI MUHAMAD BERASAL DARI TURUNAN NABI IBRAHIM DARI ISTRI YANG HAMBA SAHAYA(SITI HAJAR) JADI DIA MERASA ORANG BANI ISRAIL LEBIH MULYA DARI TURUNAN ISMAIL(NABI MUHAMAD)

b. TATKALA ALLAH MENGANGKAT JALUT JADI PEMIMPIN BANYAK ORANG WAKTU ITU TIDAK MAU TAAT KARENA MERASA JALUT ITU ORANG YANG LEBIH RENDAH DARI DIRINYA (QS ALBAQARAH 247)

c. IBLIS TIDAK MAU TUNDUK PADA NABI ADAM KARENA DIA MERASA LEBIH BAIK DARI ADAM DIA DICIPTAKAN DARI API SAMUM SEDANGKAN ADAM DARI TANAH,IBLIS JUGA MERASA DIA LEBIH SENIOR KARENA SUDAH IBADAH PADA ALLAH BERIBU2 TAHUN SEBELUM NABI ADAM ADA.

d. DLL LAGI INSYA ALLAH AKAN ANTUM TEMUI JIKA ANTUM KAJI DIDALAM ALQUR’AN