Kamis, 03 November 2011

Berjamaah adalah amalan Nabi dan Para Sahabat, Tabiin dan Tabiit Tabiin

Written by Muhammad Soleh



Jika membentuk jamaah dan mengangkat imam adalah perkara yang tidak wajib maka tentulah para sahabat rahimuhullah tidak akan bersusah-payah bermusyawarah mengangkat khalifah hingga mereka menunda pengurusan sekaligus pemakaman jenazah Rasulullah shallallahi ‘alaihi wa sallam

Dengan kata lain jika ada manusia yang paling berhak untuk tidak berjamaah dan berbaiat kepada seorang imam tentulah para sahabat, sebab diantara mereka telah mendapat jaminan masuk surge ada yang karena keikut-sertaannya dalam perang Badar
(313 orang), ada yang karena turut serta dalam Baiat Ridwan (sekitar 1500 orang), dan ada yang masuk Al-Asyrah Al-Mubasyirah bil-Jannah (sepuluh orang yang telah diberi kabar gembira pasti masuk surga, mereka adalah; 1. Abu Bakar bin Abi Quhafah (As-Siddiq) 2. Umar bin Khattab (Al-Faruq) 3. Utsman bin Affan 4. Ali bin Abi Thalib 5. Thalhah bin Ubaidillah 6. Az-Zubair bin Awwam 7. Abdurrahman bin Auf 8. Sa’ad bin Abi Waqqash 9. Said bin Zaid 10. Abu Ubaidah bin Jarrah

Atau umumnya sahabat yang keutamaan mereka jauh di atas kita, sehingga infaq kita berupa emas satu gunung uhud pun pahalanya tidak akan bias menyamai infaqnya para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam walau hanya berupa satu mud kurma.

Dari Abi Sa’id Al-Khudri r.a dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Jangan kalian mencaci-maki sahabatku, seandainya salah satu kalian infaq emas sebesar gunung Uhud, maka itu tidak bias menyamai infaq mereka yang henya (berupa makanan) satu mud atau setengahnya” HR. Al-Bukhari : 3397, Muslim : 4610

Demikian pula dengan dua generasi yang terunggul dari umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu para tabi’in dan tabi’it-tabi’in sebagaimana yang telah disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Dari Imran bin Hushain r.a dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda "Sebaik-baiknya kalian adalah generasiku (sahabat) kemudian yang mendekati mereka (tabi’in) kemudian yang mendekati mereka (tabi’it-tabi’in)” HR. Al-Bukhari : 5948

Tapi fakta sejarah telah menunjukkan bahwa tidak ada satupun diantara tiga generasi umat yang terunggul tersebut yang tidak mempunyai imam, tidak ada satupun diantara mereka yang tidak berbai’at kepada imam, bahkan Ali bin Abi Thalib yang sebenarnya mempunyai “ganjalan” terhadap Khalifah Abu Bakar As-Shiddiq akhirnya mengalah dan turut membaiat kepada sang khalifah

Bagaimana dengan kita yang sama sekali tidak bias dibandingkan dengan mereka, yang sama sekali belum mendapat jaminan surga, yang amal ibadah kita setahi-kuku pun tidak bias menyamai ibadah mereka, pantaskah kita merasa selamat dan aman dengan tidak mempunyai imam, tidak terikat dengan janji baiat dan tidak berjamaah ?

Bagaimana dengan mereka yang mengaku sebagai pengikut manhaj Salafus Shalih (sahabat, tabi’in dan tabi’it-tabi’in) tapi mengingkari hal prinsip yang diamalkan oleh para Salafus Shalih bahkan menganggap berjamaah dan berbaiat dengan imam itu suatu bid’ah yang diada-adakan dan orang-orang yang melakukannya mereka juluki sebagai ahlul bid’ah wal ahwa’ (pengikut bid’ah dan hawa nafsu) subahanallah

0 komentar:

Posting Komentar