Selasa, 18 Oktober 2011

Jawaban Sederhana PENUH MAKNA dari seorang penjual bakso

Di suatu senja sepulang kantor, saya masih berkesempatan untuk ngurus
tanaman di depan rumah, sambil memperhatikan beberapa anak asuh yang
sedang belajar menggambar peta, juga mewarnai. Hujan rintik - rintik
selalu menyertai di setiap sore di musim hujan ini. Di kala tangan sedikit
berlumuran tanah kotor,…terdengar suara tek…tekk.. .tek…suara tukang
bakso dorong lewat.

Sambil menyeka keringat…, ku hentikan tukang bakso itu dan memesan
beberapa mangkok bakso setelah menanyakan anak - anak, siapa yang mau
bakso ?

“Mauuuuuuuuu. ..”, secara serempak dan kompak anak - anak asuhku menjawab.

Selesai makan bakso, lalu saya membayarnya. …
Ada satu hal yang menggelitik fikiranku selama ini ketika saya
membayarnya, si tukang bakso memisahkan uang yang diterimanya. Yang satu
disimpan dilaci, yang satu ke dompet, yang lainnya ke kaleng bekas kue
semacam kencleng. Lalu aku bertanya atas rasa penasaranku selama ini.
“Mang kalo boleh tahu, kenapa uang - uang itu Emang pisahkan ? Barangkali
ada tujuan ?”

“Iya pak, Emang sudah memisahkan uang ini selama jadi tukang bakso yang
sudah berlangsung hampir 17 tahun. Tujuannya sederhana saja, Emang hanya
ingin memisahkan mana yang menjadi hak Emang, mana yang menjadi hak Orang
lain / tempat ibadah, dan mana yang menjadi hak cita - cita penyempurnaan
iman “.

“Maksudnya.. .?”, saya melanjutkan bertanya.

“Iya Pak, kan agama dan Tuhan menganjurkan kita agar bisa berbagi dengan
sesama. Emang membagi 3, dengan pembagian sebagai berikut :

1. Uang yang masuk ke dompet, artinya untuk memenuhi keperluan hidup
sehari - hari Emang dan keluarga.

2. Uang yang masuk ke laci, artinya untuk infaq/sedekah, atau untuk
melaksanakan ibadah Qurban. Dan alhamdulillah selama 17 tahun menjadi
tukang bakso, Emang selalu ikut qurban seekor kambing, meskipun kambingnya
yang ukuran sedang saja.

3. Uang yang masuk ke kencleng, karena emang ingin menyempurnakan agama
yang Emang pegang yaitu Islam. Islam mewajibkan kepada umatnya yang mampu, untuk melaksanakan ibadah haji. Ibadah haji ini tentu butuh biaya yang besar. Maka Emang berdiskusi dengan istri dan istri menyetujui bahwa di
setiap penghasilan harian hasil jualan bakso ini, Emang harus menyisihkan
sebagian penghasilan sebagai tabungan haji. Dan insya Allah selama 17
tahun menabung, sekitar 2 tahun lagi Emang dan istri akan melaksanakan
ibadah haji.

Hatiku sangat…sangat tersentuh mendengar jawaban itu. Sungguh sebuah
jawaban sederhana yang sangat mulia. Bahkan mungkin kita yang memiliki
nasib sedikit lebih baik dari si emang tukang bakso tersebut, belum tentu
memiliki fikiran dan rencana indah dalam hidup seperti itu. Dan seringkali
berlindung di balik tidak mampu atau belum ada rejeki. Terus saya
melanjutkan sedikit pertanyaan, sebagai berikut :
“Iya memang bagus…,tapi kan ibadah haji itu hanya diwajibkan bagi yang
mampu, termasuk memiliki kemampuan dalam biaya….”.

Iya menjawab, ” Itulah sebabnya Pak. Emang justru malu kalau bicara soal
mampu atau tidak mampu ini. Karena definisi mampu bukan hak pak RT atau
pak RW, bukan hak pak Camat ataupun MUI. Definisi “mampu” adalah sebuah
definisi dimana kita diberi kebebasan untuk mendefinisikannya sendiri.
Kalau kita mendefinisikan diri sendiri sebagai orang tidak mampu, maka
mungkin selamanya kita akan menjadi manusia tidak mampu. Sebaliknya kalau
kita mendefinisikan diri sendiri, “mampu”, maka insya Allah dengan segala
kekuasaan dan kewenangannya Allah akan memberi kemampuan pada kita”.

“Masya Allah…, sebuah jawaban elegan dari seorang tukang bakso”.

Sahabat….
Cerita ini sangat sederhana. Semoga memberi hikmah terbaik bagi kehidupan
kita. Aminadakah pelajaran yang dapat kalian dapat????






adakah pelajaran yang dapat kalian dapat????

6 komentar:

Unknown mengatakan...

Sy setuju dg pak bakso, bahwa dlm hidup ini kita harus berfikir positif atau dlm bhs religinya khusnudzonbillah. Kita tidak berhak menghukumi diri kita ini 'tidak mampu'. Allah yg memiliki segala kemampuan, dan hanya Allah yg berhak menentukan kepada siapa kemampuan itu akan dipinjamkan. Adapun kita sebagai hamba hanya wajib berdo'a dan berupaya semaksimal mungkin dg keyakinan penuh kepada Allah yg Maha Pengasih lagi Maha Penolong.

Unknown mengatakan...

bagus sekali artikelnya...kalau Alloh sudah berkehendak tidak ada yang dapat menghalangi walaupun dari kalangan bawah sekalipun...intinya selalu beriktiar, jangan putus asa dengan keadaan dan jangan menganggap kalau klau kita ini tidak mampu, karena kalau kita masih menganggap seperti itu selamanya juga kita tidak akan mampu...oh ya bagi para teman2 yang masih belum bekerja, saya lagi buka usaha rumahan, sistemnya dengan jualan menggunakan gerobak sepeda...amsol kalau ada kirim aja infonya kemari di: qelva354@yahoo.com...ajkh ya atas infonya

purwadi mengatakan...

subkhanalloh,suatu pelajaran yg luar biasa,ya Alloh mudah2an kami bisa meneladaninya,amin

purwadi mengatakan...

subkhanalloh,suatu pelajaran yg luar biasa,ya Alloh mudah2an kami bisa meneladaninya,amin

Unknown mengatakan...

Hikmah yang membawa Berkah ... Insya Allah

DPC LDII TIKKE RAYA mengatakan...

Sungguh pelajaran yang sangat berharga, Semoga Allah memberi kekuatan Iman dan jalan yang mudah bagi orang-orang yang mau berusaha dan berdoa, Jadi kalau boleh saya titip pesan Untuk Haji DAFTAR dulu saja karena masa tunggu nya lama, selama masa tunggu kita bisa menabung sedikit demi sedikit, Semoga Allah paring Barokah Amien.

Posting Komentar