Senin, 24 Oktober 2011

[PERINGATAN] Celaka! Mati Berjihad, Rajin Sedekah & Baca Al-Quran, Tapi Masuk Neraka

[PERINGATAN]

Celaka! Mati Berjihad, Seorang Zuhud dan Abid, Rajin Sedekah & Baca Al-Quran, Tapi Masuk Neraka...!





Kita pasti bertanya, kok bisa, seorang hamba yang mati di medan jihad, berilmu dan membaca Al-Qur’an, serta dikenal karena kedermawanannya, tapi pada akhirnya terlempar ke neraka. Apa sebabnya? 


Sebelum Muslimin -Semoga Alloh Paring Barokah- Membaca Artikel Dibawah Ini, Perlu diperhatikan Beberapa Poin Penting Penjelasan Tentang:
"Syahnya Penyampaian Ilmu Menurut Salafussholih" dan
" MANQUL, MUSNAD, MUTTASHIL DAN RO’YI/PENDAPAT"


A
bu Huroirah meriwayatkan, ia pernah mendengar Rosululloh Saw bersabda;

”Manusia pertama yang diadili pada hari Kiamat nanti adalah orang yang mati syahid. Orang yang mati syahid didatangkan di hadapan Alloh. Kemudian ditunjukkan segala kenikmatan yang telah diberikan kepadanya, dan ia mengakuinya. Alloh bertanya, 'Apa yang telah kamu lakukan di dunia?'  Dia menjawab, 'Aku berperang demi membela agamamu.' Alloh berkata, 'Kamu bohong.Kamu berperang supaya orang-orang menyebutmu Sang Pemberani.' Kemudian Alloh memerintahkan agar amalnya dihitung di hadapan pengadilan-Nya. Akhirnya ia dilempar ke neraka.

Seorang penuntut ilmu yang mengamalkan ilmunya dan rajin membaca al-Qur’an didatangkan dihadapan Alloh. Lalu ditunjukkan segala kenikmatan yang telah diberikan kepadanya, dan ia mengakuinya. Alloh bertanya, 'Apa yang telah kamu lakukan di dunia?'  Dia menjawab, 'Aku menuntut ilmu, mengamalkannnya, dan aku membaca al-Qur’an demi mencari ridhamu.' Alloh berkata, 'Kamu bohong. Kamu mencari ilmu supaya orang lain menyebutmu orang alim, dan kamu membaca al-Qur’an supaya orang lain menyebutmu orang yang rajin membaca al-Qur’an.' Kemudian Alloh memerintahkan agar amalnya dihitung di hadapan pengadilan-Nya. Akhirnya ia dilempar ke neraka.

Selanjutnya, seorang yang memiliki kekayaan berlimpah dan terkenal karena kedermawanannya, didatang dihadapan Alloh. Kemudian ditunjukkan segala kenikmatan yang telah diberikan kepadanya, dan ia mengakuinya. Alloh bertanya, 'Apa yang telah kamu lakukan di dunia?' Dia menjawab, 'Semua harta kekayaan yang aku punya tidak aku sukai, kecuali aku sedekah karena-Mu.' Alloh berkata, 'Kamu bohong. Kamu melakukan itu semua agar orang-orang menyebutmu orang dermawan dan murah hati.' Kemudian Alloh memerintahkan agar amalnya dihitung di hadapan pengadilan-Nya. Akhirnya ia dilempar ke neraka.

Abu Huroiroh berkata, 'Kemudian Rasululloh menepuk pahaku seraya berkata, 'Wahai Abu Hurairah, mereka adalah manusia pertama yang merasakan panasnya api neraka Jahanam di Hari Kiamat nanti.'

(HR. Muslim)



Berlatih Ikhlas

Berkaca dari hadits riwayat Imam Muslim di atas, maka keikhlasan dalam beramal menjadi hal yang sangat penting. Betapa pun seorang hamba mati di medan jihad, berilmu dan membaca al-Qur’an, bahkan dikenal karena kedermawanannya, tapi jika tidak disertai  dengan keikhlasan, maka menjadi sia-sialah amalnya.

Ternyata kata ikhlas, bukan karena bibir ini berucap ikhlas. Atau bahkan tidak berucapkan ikhlas. Boleh jadi, tanpa kita sadari, keikhlasan kita bercampur dengan riya' dan ingin menunjukkan bahwa kita adalah seorang yang pemberani, yang berilmu, dan dermawan.

Orang bijak berkata, “Orang yang ikhlas adalah orang  yang menyembunyikan kebaikannya, seperti dia menyembunyikan kejelekannya. Keikhlasan niat dalam amalmu lebih bermakna daripada amal itu sendiri.”

Ma’ruf al-Karkhi sampai memukul dirinya sendiri sambil berkata, “Wahai jiwa, ikhlaslah! Maka kamu akan bahagia.”

Yahya bin Mu’adz berkata, “Ikhlas adalah memisahkan amal dari cacat seperti terpisahnya susu dari kotoran dan darah.”

Yusuf bin Husain berkata, “Sesuatu yang paling mulia di dunia ini adalah ikhlas. Berapa besar kesungguhanku untuk mengeluarkan pamer dari dalam hati, namun sepertinya ia menetap di hati dalam bentuknya yang lain.”

Setiap kali Ayyub as-Sakhtiyani  berbicara, ia mengusap wajahnya sambil berkata, “Aku terserang demam.” Padahal ia takut pamer dan ujub. Dia takut kalau orang-orang berkata tentang dirinya seperti ini. Dia menangis karena takut pada Alloh.

Seorang ulama mengatakan, “Jika Alloh tidak suka kepada seseorang, maka Alloh memberinya tiga hal da menghalanginya dari tiga hal. Pertama, Alloh memberi dia teman yang saleh, namun dirinya tidak menjadi orang saleh. Kedua, Alloh memberi dia amal saleh, namun dia tidak ikhlas menjalankannya. Ketiga, Alloh memberi dia hikmah, namun dia tidak mempercayainya.”


Hakikat Riya

Riya' itu berasal dari kata ru’yah (melihat), sedanghkan sum’ah (ketenaran) berasal dari kata Samaa’ (mendengar). Riya’ adalah ingin dilihat orang-orang supaya mendapat kedudukan. Riya’ itu tersamar seperti jalannya semut. Termasuk riya’, yaitu orang yang berpura-pura zuhud, berjalan memaksa diri untuk bersikap tenang dan bersikap lemah-lembut.

Dalam ringkasan Ihya Ulumuddin, Imam al Ghazali menegaskan, riya itu haram dan pelakunya dibenci oleh Alloh Swt. Hal itu ditunjukkan dalam QS. Al-Ma’un: 4- 6:

“Maka, celakalah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya. Orang-orang yang berbuat riya.”

Seorang sahabat Nabi Saw bertanya, “Ya Rosululloh, dengan apa kita selamat?”  Rasulullah menjawab, ”Bila manusia tidak mengamalkan ketaatan kepada Allah swt demi mengharap pujian orang-orang.”        
Nabi Saw bersabda, “Sesungguhnya yang paling ditakutkan atas kamu adalah syirik kecil.”  Sahabat bertanya, “Apakah syirik kecil itu, ya Rosululloh?'' Beliau menjawab, “Riya.”

Lalu Alloh Swt berkata di Hari Kiamat ketika membalas manusia-manusia atas amal-amal mereka: “Pergilah (kamu) kepada orang-orang dulu kamu berbuat riya terhadap mereka di dunia. Lihatlah apakah kamu mendapat balasan dari mereka?”

Dalam riwayat yang lain, Rosululloh bersabda, “Berlindunglah kamu dengan Alloh dari jubbul huzun (lembah duka). Sahabat bertanya, “Apa itu ya Rosululloh?'’ Nabi Saw menjawab, “Sebuah lembah di neraka Jahanam yang disediakan bagi para pembaca Al-Qur’an yang berbuat riya.”  

0 komentar:

Posting Komentar